Oktober 1, 2026

Tak Ada Revolusi Hari Ini, Selain Narsisisme

Oleh Angga Wijaya*

SORE itu saya mampir ke sebuah warung bakso dan soto ayam di Denpasar. Warungnya sederhana. Beberapa meja plastik berderet di bawah atap seng. Di sudut ruangan, kipas angin berputar pelan mengusir hawa panas. Seorang pengemudi ojek daring baru saja menyelesaikan makan siangnya. Dua mahasiswa bercakap sambil sesekali melirik telepon genggam mereka. Seorang ibu membungkus bakso untuk dibawa pulang. Tidak ada yang tampak istimewa.

Kecuali satu hal; penjual warung itu mengenakan kaos hitam dengan tulisan besar di dadanya, Revolution. Saya memesan semangkuk bakso. Namun sebelum suapan pertama, mata saya berkali-kali kembali pada satu kata itu; Revolution.

Aneh rasanya. Kata itu terasa begitu akrab, tetapi sekaligus asing. Akrab karena ia pernah memenuhi masa muda saya. Saya pernah menjumpainya dalam buku-buku sejarah, teori politik, dan sastra. Kata itu pernah terdengar lantang di ruang-ruang diskusi kampus, di warung kopi yang dipenuhi mahasiswa dengan cita-cita mengubah dunia, juga di halaman-halaman puisi yang percaya bahwa kata-kata dapat menggoyang kenyataan.

Kini, kata yang sama saya temukan di sebuah kaos yang dikenakan penjual bakso. Saya tidak tahu apakah ia menyadari makna tulisan itu. Mungkin kaos itu dibeli karena murah, mungkin hadiah dari seseorang, atau mungkin hanya karena desainnya menarik. Saya juga tidak bertanya. Ia tetap sibuk menyendok kuah, merebus bakso, menerima pembayaran, lalu melayani pembeli berikutnya. Sementara saya justru larut memikirkan satu yang mungkin bahkan tidak sedang ia pikirkan.

Barangkali begitulah nasib kata-kata. Ia lahir dari sebuah zaman, diperebutkan oleh banyak orang, lalu perlahan berpindah ke ruang-ruang yang sama sekali berbeda. Dulu, kata revolusi membuat orang dipenjara, dibuang, bahkan kehilangan nyawa. Hari ini ia bisa menjadi sablon pada selembar kaos, slogan promosi, atau tagar yang menghilang di antara ribuan unggahan media sosial.

Saya mengulanginya dalam hati. Revolution. Selama beberapa menit saya hanya memandangi tulisan itu, sementara bakso di depan saya mulai kehilangan uap panasnya.

Entah sejak kapan saya mulai tertarik pada nasib kata-kata. Mungkin sejak menjadi mahasiswa antropologi, ketika saya belajar bahwa manusia hidup bukan hanya di antara benda-benda, melainkan juga di antara simbol-simbol. Kata bukan sekadar bunyi. Ia membawa sejarah, ingatan, harapan, bahkan luka. Cara sebuah masyarakat memperlakukan kata sering kali memperlihatkan bagaimana masyarakat itu memandang dirinya sendiri.

Barangkali karena itulah saya tidak bisa menganggap tulisan di kaos itu sebagai hiasan belaka. Saya mulai bertanya kepada diri sendiri. Apa sebenarnya arti revolusi hari ini?

Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun jawabannya tidak pernah sesederhana yang kita bayangkan. Ada masa ketika revolusi dipahami sebagai keberanian mengubah dunia. Ia lahir dari keyakinan bahwa sejarah dapat dibelokkan oleh tindakan manusia. Revolusi bukan sekadar pergantian penguasa. Ia adalah harapan bahwa kehidupan bisa menjadi lebih adil daripada sebelumnya.

Saya tumbuh ketika kata itu masih sering terdengar dalam diskusi, buku, maupun pidato. Kami membaca kisah-kisah tentang orang-orang yang mempertaruhkan hidup demi sebuah cita-cita. Kami percaya bahwa perubahan adalah sesuatu yang mungkin diperjuangkan, meskipun tidak mudah dicapai.

Hari ini saya tidak lagi seantusias itu. Bukan karena saya berhenti percaya pada perubahan, melainkan karena saya mulai menyadari bahwa perubahan tidak selalu hadir melalui slogan-slogan besar.

Semakin bertambah usia, saya justru semakin sering menemukan pelajaran hidup di tempat-tempat yang tidak pernah saya duga, misalnya di ruang tunggu rumah sakit, di perjalanan pulang ke kampung, di ruang pamer seni, dalam percakapan singkat dengan orang asing, atau seperti sore itu, di sebuah warung bakso yang nyaris saya lewati begitu saja.

Mungkin usia memang mengubah cara seseorang memandang dunia. Dua puluh tahun lalu, barangkali saya akan melihat tulisan Revolution itu sebagai ajakan. Hari ini saya melihatnya sebagai pertanyaan.

Bukan pertanyaan tentang negara, bukan pula tentang siapa yang sedang berkuasa. Melainkan pertanyaan yang jauh lebih dekat; apa yang sebenarnya telah berubah dalam diri kita ketika sebuah kata yang dahulu begitu mengguncang kini terasa biasa saja?

Saya belum menemukan jawabannya. Tetapi saya merasa, sore itu, semangkuk bakso dan sebuah kaos hitam telah membuka percakapan yang jauh lebih panjang daripada yang saya bayangkan.

Ada satu hal yang belakangan sering saya pikirkan. Mungkin yang berubah bukan hanya cara kita menggunakan kata revolusi, melainkan juga cara kita membayangkan perubahan itu sendiri.

Sejak lama masyarakat kita hidup dengan imajinasi tentang hadirnya seorang penyelamat. Dalam tradisi Jawa dikenal sosok Ratu Adil, figur yang dipercaya akan datang membawa keadilan dan kemakmuran. Mitos itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berganti wajah sesuai zamannya.

Setiap kali muncul pemimpin baru, harapan lama itu seperti lahir kembali. Kita menaruh begitu banyak ekspektasi pada satu orang, seolah seluruh persoalan bangsa dapat diselesaikan oleh seorang tokoh. Kita berharap ia mampu memperbaiki ekonomi, memberantas korupsi, menegakkan hukum, mengurangi kemiskinan, dan memulihkan kepercayaan masyarakat.

Harapan tentu bukan sesuatu yang keliru. Tanpa harapan, sebuah masyarakat akan kehilangan tenaga untuk bergerak. Namun harapan juga memiliki sisi lain. Ia sering membuat kita lupa bahwa perubahan hampir tidak pernah lahir dari satu orang saja.

Ketika harapan itu tidak terpenuhi, kita segera berbalik arah. Tokoh yang kemarin dielu-elukan berubah menjadi sasaran kemarahan. Pujian berganti caci maki. Kekaguman berubah menjadi kekecewaan. Semua berlangsung begitu cepat, seolah-olah tidak pernah ada jarak antara mencintai dan membenci.

Saya sering bertanya, apakah yang berubah memang para pemimpinnya, atau justru cara kita memperlakukan mereka? Media sosial mempercepat perubahan itu. Di ruang digital, seseorang dapat dipuja pada pagi hari, lalu dihancurkan pada malam harinya.

Kita menyaksikan reputasi dibangun dan diruntuhkan dalam hitungan jam. Tidak selalu karena fakta baru ditemukan, tetapi sering kali karena perhatian publik telah berpindah ke arah yang lain.

Algoritma tidak mengenal kesetiaan. Ia hanya mengenal perhatian. Yang paling banyak dibicarakan akan terus muncul. Yang mulai dilupakan perlahan menghilang. Dalam ritme seperti itu, setiap orang terdorong untuk terus berbicara agar tidak tenggelam.

Saya tidak sedang menyalahkan media sosial. Saya sendiri hidup di dalamnya. Sebagai penulis, saya membagikan tulisan melalui ruang yang sama. Saya membaca berita dari sana, berkomunikasi dengan teman-teman, bahkan menemukan banyak informasi yang berguna.

Persoalannya bukan medianya, persoalannya adalah logika yang pelan-pelan kita serap tanpa sadar. Logika yang menghargai kecepatan lebih daripada kedalaman, logika yang mendorong reaksi lebih daripada perenungan, dan logika yang memberi ganjaran kepada mereka yang paling ramai, bukan selalu kepada mereka yang paling jernih.

Barangkali karena itulah saya mulai merasa bahwa kritik pun telah mengalami perubahan. Dahulu kritik lahir dari keinginan memperbaiki keadaan. Ia lahir dari kesediaan mengambil risiko. Orang menulis, berdiskusi, bahkan turun ke jalan karena sungguh-sungguh ingin mengubah sesuatu.

Hari ini kritik sering kali berubah menjadi identitas. Kita ingin dikenal sebagai orang yang kritis, ingin dianggap berpihak, dan ingin dilihat sebagai orang yang tidak pernah diam.

Keinginan-keinginan itu tidak selalu salah. Saya sendiri pernah merasakannya. Ada kepuasan kecil ketika sebuah tulisan dibaca banyak orang. Ada perasaan lega ketika pendapat kita mendapat dukungan. Namun belakangan saya mulai bertanya kepada diri sendiri: apakah saya sedang menulis untuk memahami, atau sekadar ingin didengar?

Pertanyaan itu tidak mudah dijawab. Saya menduga banyak di antara kita pernah mengalaminya. Di zaman ketika setiap orang memiliki panggungnya sendiri, godaan terbesar bukan lagi menjadi tidak dikenal, melainkan kehilangan perhatian.

Barangkali di situlah saya mulai memahami larik puisi yang saya tulis setahun lalu. “Tak ada revolusi hari ini, selain narsisisme. Larik itu dahulu saya anggap hanya permainan bahasa. Kini saya membacanya dengan cara yang berbeda.

Yang saya maksud bukan narsisisme sebagai istilah psikologi klinis. Saya memakainya sebagai metafora kebudayaan; kecenderungan zaman yang membuat kita semakin haus pengakuan, semakin ingin terlihat, dan semakin mudah mengukur nilai diri melalui perhatian orang lain.

Dalam suasana seperti itu, revolusi pun pelan-pelan berubah. Ia tidak lagi selalu diukur dari perubahan yang benar-benar terjadi. Kadang ia cukup berhenti sebagai citra bahwa kita sedang berpihak pada perubahan. Kesadaran itu tidak datang sekaligus. Ia tumbuh perlahan, hampir tanpa saya sadari.

Ada masa ketika saya merasa perlu memiliki pendapat tentang hampir semua persoalan. Setiap kali muncul isu politik, saya ingin ikut membaca, mengikuti perkembangannya, lalu menuliskan sesuatu. Saya menikmati diskusi yang berlangsung hingga larut malam. Saya percaya bahwa sebuah tulisan, betapapun kecilnya, dapat ikut mengubah cara orang memandang dunia.

Mungkin banyak penulis pernah mengalami fase seperti itu. Kita merasa kata-kata mempunyai daya. Dan memang demikian adanya. Kata-kata dapat menggerakkan orang, menyembuhkan luka, memantik keberanian, atau justru melahirkan kebencian.

Namun seiring waktu, saya juga menyadari bahwa kata-kata dapat berubah menjadi kebisingan. Bukan karena terlalu banyak orang berbicara, melainkan karena semakin sedikit orang yang benar-benar mendengarkan.

Saya mulai melihat perdebatan yang berputar-putar tanpa pernah sampai pada pemahaman. Orang tidak lagi berdiskusi untuk saling belajar, tetapi untuk memastikan bahwa pendapatnya tampak paling benar. Kita lebih sibuk menyusun sanggahan daripada memahami alasan orang lain.

Barangkali media sosial memang tidak menciptakan watak itu. Ia hanya memperlihatkannya dengan lebih terang. Di sana, setiap orang memiliki panggung kecilnya sendiri. Kita menulis, mengunggah, berkomentar, lalu menunggu respons.

Tanda suka, komentar, dan jumlah orang yang membagikan tulisan perlahan menjadi ukuran yang diam-diam memengaruhi perasaan kita. Ketika respons itu banyak, kita merasa didengar. Ketika sepi, kita bertanya-tanya apakah suara kita masih berarti.

Saya tidak ingin berpura-pura berada di luar pengalaman itu. Saya juga pernah menunggu tulisan dibaca banyak orang. Saya juga pernah merasa senang ketika sebuah esai dibagikan berulang kali. Ada kepuasan yang sulit dipungkiri ketika kata-kata yang kita tulis menemukan pembacanya.

Tetapi dari sanalah saya mulai belajar membedakan dua hal yang tampak mirip, tetapi sesungguhnya berbeda. Menulis agar dipahami, dan menulis agar diperhatikan. Perbedaannya sangat tipis. Bahkan mungkin saya sendiri tidak selalu berhasil membedakannya.

Kesadaran itulah yang membuat saya perlahan mengambil jarak dari hiruk-pikuk komentar politik harian. Bukan karena saya kehilangan kepedulian terhadap negeri ini. Juga pula karena saya menganggap politik tidak penting.

Saya hanya merasa terlalu banyak energi habis untuk percakapan yang tidak benar-benar mengubah siapa pun. Kita saling melempar pendapat, tetapi jarang pulang dengan pemahaman baru. Yang bertambah sering kali hanya rasa lelah.

Saya kemudian lebih tertarik mengamati kehidupan sehari-hari. Saya menemukan lebih banyak pelajaran di ruang-ruang yang tampaknya biasa. Di pasar tradisional, di ruang pamer seni, di perjalanan pulang ke Jembrana, di rumah sakit, di warung kopi. Dan sore itu, di sebuah warung bakso.

Semakin saya mengamati kehidupan, semakin saya merasa bahwa perubahan besar sering kali berakar pada tindakan-tindakan kecil yang nyaris tidak pernah menjadi berita.

Saya melihat seorang penjual bakso yang terus bekerja tanpa memikirkan apakah pekerjaannya akan menjadi bahan perbincangan. Ia tidak sedang berbicara tentang revolusi. Ia tidak sedang menyampaikan pidato. Ia hanya melayani pembeli satu demi satu dengan kesabaran yang sama.

Saya tiba-tiba merasa bahwa ada kejujuran yang jarang kita bicarakan. Kejujuran untuk bekerja tanpa harus dilihat, kejujuran untuk berbuat baik tanpa perlu diumumkan. Kejujuran untuk tetap melakukan sesuatu yang berguna, meskipun tidak pernah menjadi viral.

Di tengah dunia yang begitu sibuk mempertontonkan diri, tindakan-tindakan sederhana itu justru terasa semakin bernilai. Barangkali karena itu saya semakin percaya bahwa revolusi tidak selalu lahir dari peristiwa-peristiwa besar.

Kadang ia tumbuh dalam kesediaan seseorang menjalani hidup dengan jujur, menjaga martabat pekerjaannya, dan tetap memperlakukan orang lain dengan hormat ketika tidak ada kamera yang merekamnya.

Saya teringat pada semangkuk bakso yang perlahan mulai dingin di depan saya. Selama saya sibuk memikirkan makna sebuah kata, penjual itu tetap bekerja seperti biasa. Mungkin ia tidak pernah membaca buku-buku tentang revolusi. Mungkin ia tidak pernah mengikuti perdebatan politik yang memenuhi linimasa.

Tetapi sore itu, justru dari pekerjaannya yang sederhana saya belajar sesuatu yang sudah lama saya lupakan, bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari pidato yang lantang. Kadang ia dimulai dari kesungguhan menjalani pekerjaan yang ada di depan kita, tanpa perlu terus-menerus meminta dunia mengakui bahwa kita sedang melakukan sesuatu yang penting.

“Makan dulu, kawan.” Kalimat itu tiba-tiba terlintas begitu saja di kepala saya. Entah mengapa, ia terasa jauh lebih masuk akal daripada banyak slogan yang pernah saya dengar. Semakin bertambah usia, saya semakin tidak percaya bahwa dunia hanya berubah oleh kalimat-kalimat besar.

Saya mulai percaya bahwa dunia juga dipertahankan oleh orang-orang yang setiap hari bangun pagi, bekerja dengan jujur, menghidupi keluarganya, membayar kewajibannya, menolong orang lain tanpa berharap dikenal, lalu pulang dalam keadaan lelah.

Mereka mungkin tidak pernah menyebut dirinya pejuang. Tidak pernah menyebut dirinya aktivis, dan tidak pernah mengaku sedang membuat revolusi.

Namun tanpa mereka, kehidupan tidak akan berjalan. Saya membayangkan petugas kebersihan yang menyapu jalan sebelum matahari terbit. Perawat yang berganti sif ketika sebagian besar orang sedang tidur. Guru yang tetap mengajar dengan sabar meski jarang mendapat penghargaan. Sopir angkutan yang mengantar penumpang setiap hari. Penjual bakso yang sore itu terus melayani pembeli, sementara saya sibuk memikirkan kata yang tercetak di dadanya.

Mereka tidak sedang mencari perhatian. Mereka sedang menjalani kehidupan. Barangkali di situlah saya mulai melihat revolusi dari sudut yang berbeda.

Selama ini kita terlalu sering membayangkan revolusi sebagai ledakan. Sebuah peristiwa besar yang mengubah sejarah dalam semalam. Padahal sejarah manusia juga dibangun oleh hal-hal yang berlangsung perlahan, nyaris tanpa suara. Oleh orang-orang yang memilih tetap jujur ketika kesempatan untuk berlaku curang terbuka lebar. Dan, oleh mereka yang tetap bekerja dengan baik meskipun tidak ada yang memberi tepuk tangan.

Mungkin karena itulah saya tidak lagi terlalu tertarik mengejar setiap perdebatan yang lewat di media sosial. Saya lebih ingin mengejar percakapan yang sungguh-sungguh.

Percakapan yang membuat kita pulang dengan pemahaman baru, bukan dengan kemarahan yang semakin besar. Saya lebih ingin menulis esai yang mengajak orang berhenti sejenak daripada tulisan yang memaksa orang segera berpihak. Saya tidak tahu apakah pilihan itu lebih baik. Saya hanya merasa, semakin lama saya hidup, semakin saya menyadari bahwa dunia tidak kekurangan orang yang berbicara. Yang mulai langka adalah orang yang bersedia mendengarkan.

Barangkali saya pun masih belajar. Saya masih hidup di zaman yang sama. Saya juga menggunakan media sosial, saya juga membagikan tulisan, menikmati ketika ada yang membacanya, dan sesekali masih tergoda mengukur nilai sebuah tulisan dari banyaknya tanggapan yang datang. Saya tidak berdiri di luar budaya yang saya kritik.

Justru karena berada di dalamnya, saya merasa perlu sesekali mengambil jarak, mengambil napas. Mengingat kembali mengapa saya menulis. Bukan untuk memenangkan perdebatan. Bukan untuk tampak paling kritis, melainkan untuk memahami kehidupan sedikit demi sedikit.

Bakso saya telah habis. Kuah di mangkuk tinggal beberapa sendok. Pembeli baru mulai berdatangan. Matahari sore perlahan turun di langit Denpasar. Penjual itu kembali menyendok kuah, merebus bakso, dan melayani antrean berikutnya. Tulisan Revolution di dadanya sesekali tertutup celemek yang ia kenakan.

Saya membayar, mengucapkan terima kasih, lalu melangkah keluar dari warung. Di jalan, kendaraan tetap berlalu-lalang seperti biasanya. Orang-orang pulang bekerja. Sebagian mungkin sedang terburu-buru mengejar waktu, sebagian lagi sibuk menatap layar telepon genggam di tangannya.

Sementara saya berjalan pelan, membawa pulang satu kata yang belum selesai saya pahami. Revolution. Mungkin revolusi memang belum hilang. Mungkin ia hanya tidak lagi tinggal di tempat-tempat yang selama ini kita bayangkan.

Ia tidak selalu hadir dalam pidato yang menggelegar, slogan yang berapi-api, atau unggahan yang viral. Barangkali ia sedang hidup dalam keberanian yang lebih sunyi, yakni keberanian untuk bekerja tanpa haus pengakuan, mengkritik tanpa kehilangan empati, berbeda pendapat tanpa merendahkan, dan menjalani hidup dengan jujur meskipun tidak ada yang sedang melihat.

Kalau begitu, mungkin larik puisi yang saya tulis setahun lalu juga perlu saya baca ulang. “Tak ada revolusi hari ini, selain narsisisme.” Hari ini saya tidak lagi membacanya sebagai vonis. Saya membacanya sebagai peringatan.

Peringatan bahwa revolusi yang paling sulit barangkali bukan menggulingkan kekuasaan, melainkan menggulingkan ego kita sendiri. Sebab ketika keinginan untuk terlihat lebih besar daripada keinginan untuk berubah, saat itulah revolusi kehilangan maknanya.

Dan mungkin, justru dari sebuah warung bakso yang sederhana, saya kembali diingatkan bahwa perubahan yang paling penting selalu dimulai dari kehidupan yang dijalani dengan jujur. ***

[ILUSTRASI: foto Urja Bhatt/Unsplash.com]

*) Angga Wijaya adalah penulis, jurnalis, dan penyair yang menetap di Denpasar, Bali. Ia telah menerbitkan 20 buku yang meliputi puisi, esai, dan kumpulan artikel. Tulisannya banyak mengangkat tema kebudayaan Bali, kesehatan mental, masyarakat, serta perubahan sosial, dan dipublikasikan di berbagai media, antara lain Tatkala.co, Kanalbali.id, Podiumnews.com, dan Bicarabalinews.com.

 

 

Berita Terkait