Agustus 29, 2026
Malam purnama di Tibubeneng, Badung, Bali. Di wilayah ini tumbuh pesat berbagai akomodasi pariwisata. (Foto: Angga Wijaya)

Oleh Angga Wijaya*

PURNAMA, rahinan (hari suci) umat Hindu, saya lihat makin tak terasa, terutama di kota besar seperti Denpasar dan wilayah kabupaten Badung, Bali. Di depan rumah-rumah warga Bali, canang atau sesaji menjadi salah satu penanda datangnya hari Purnama. Selebihnya, di jalan raya, beberapa pengendara dengan pakaian adat tampak berkendara. Suasana seperti itu menjadi penanda lain, bahwa perubahan demografi adalah sesuatu yang sedang dan sudah terjadi di Bali.

Pulau Dewata berubah? Mungkin perubahan itu baru terlihat jelas di perkotaan yang penduduknya semakin heterogen. Bisa juga perubahan serupa akan tampak di kota-kota kabupaten di Bali dalam beberapa tahun ke depan. Esai ini bukanlah glorifikasi, apalagi romantisme tentang Bali. Perubahan adalah sesuatu yang kekal. Mudahnya mencari pekerjaan di Bali membuat banyak perantau memilih pulau ini sebagai tempat mencari kerja dan penghidupan.

Namun, orang datang ke Bali bukan hanya untuk bekerja. Sebagian datang untuk mencari kehidupan yang berbeda. Ada yang ingin meninggalkan kota asal, pekerjaan lama, hubungan yang tidak menyenangkan, atau sekadar rutinitas yang membuat hidup terasa monoton. Di zaman ketika pekerjaan dapat dilakukan dari mana saja selama ada laptop dan koneksi internet, pindah tempat seolah menjadi pilihan yang semakin mudah.

Fenomena ini salah satunya tampak dalam kehidupan para digital nomad, yakni orang-orang yang bekerja secara jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi digital sambil berpindah-pindah tempat. Bali menjadi salah satu tujuan yang menarik bagi kelompok ini. Psikiater Bali Mental Health Clinic, dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ (K), melalui unggahannya di media sosial, membahas penelitian terhadap 27 digital nomad di Bali yang dilakukan Juul H. D. Henkens dan diterbitkan dalam jurnal Advances in Life Course Research pada 2025.

Penelitan itu memukan sisi lain dari kehidupan yang tampak bebas tersebut. Di balik fleksibilitas, petualangan, dan kebebasan bekerja dari mana saja, para digital nomad juga menghadapi kelelahan emosional, ketidakpastian, serta kesulitan membangun hubungan sosial yang mendalam.

Para digital nomad dalam penelitian itu tidak semata-mata melihat hidup berpindah-pindah sebagai tujuan akhir. Mereka justru cenderung memandangnya sebagai sebuah fase dalam perjalanan hidup. Setelah menjalani kehidupan yang sangat mobile, muncul keinginan untuk memiliki kehidupan yang lebih menetap pada masa depan. Sebagian bahkan membayangkan kehidupan yang lebih stabil, sementara sebagian lain masih ingin berpindah tetapi dengan beberapa tempat yang menjadi basis tetap.

Di sinilah persoalannya menjadi menarik. Orang yang dari jauh tampak sedang menikmati kebebasan, bekerja dengan laptop dari Bali, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dan menjalani hidup yang mungkin diimpikan banyak orang, ternyata tidak selalu ingin terus hidup seperti itu. Ada semacam paradoks dalam perpindahan manusia modern; kita pergi karena berharap menemukan kehidupan yang lebih baik, tetapi setelah sampai di tempat yang baru, kita bisa saja mulai merindukan kehidupan yang dulu kita tinggalkan.

Mungkin karena itu, pertanyaan tentang pindah tempat tidak sesederhana “ke mana saya harus pergi?” Ada pertanyaan lain yang lebih penting, yakni “Apa sebenarnya yang ingin saya tinggalkan?” Dalam psikologi dan kajian tentang perilaku manusia, ada istilah geographic cure. Istilah ini merujuk pada keyakinan bahwa persoalan pribadi dapat diselesaikan dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Konsep ini mengingatkan kita bahwa perubahan geografis tidak selalu sama dengan perubahan personal.

Saya membayangkan seseorang yang merasa hidupnya tidak berjalan baik di Jakarta, Surabaya, Bandung, atau kota lain, kemudian berpikir bahwa Bali adalah jawabannya. Bali menawarkan pantai, matahari, suasana santai, komunitas kreatif, kafe, pekerjaan digital, dan kehidupan yang tampaknya lebih bebas.

Ia membayangkan dirinya membuka laptop di sebuah kafe di Canggu. Pagi bekerja, sore menikmati matahari terbenam, malam bertemu teman-teman dari berbagai negara. Foto-foto di media sosial memperlihatkan kehidupan yang indah. Tidak ada kemacetan seperti di kota asal, tidak ada kantor dengan meja dan kubikel, tidak ada atasan yang berdiri di belakang kursi.

Tetapi hidup tentu tidak pernah hanya terdiri atas latar belakang foto. Laptop tetap harus dibuka, tagihan tetap datang, pekerjaan tetap harus diselesaikan. Hubungan sosial tetap membutuhkan waktu. Tubuh tetap membutuhkan istirahat. Dan persoalan yang dibawa dari kota asal tidak otomatis hilang hanya karena alamat tempat tinggal berubah. Barangkali inilah yang sering luput dari pandangan kita ketika melihat seseorang pindah ke Bali. Kita melihat keberangkatannya, tetapi tidak melihat kesepiannya. Kita melihat foto pantainya, tetapi tidak melihat malam ketika ia makan sendirian.

Kita melihat laptop di meja kafe, tetapi tidak tahu berapa lama ia bekerja tanpa percakapan yang benar-benar berarti. Kita melihat kebebasannya berpindah tempat, tetapi tidak melihat betapa melelahkannya harus terus-menerus memperkenalkan diri kepada orang baru. Ada perbedaan antara bertemu banyak orang dan mempunyai seseorang yang benar-benar mengenal kita. Bali, dalam hal ini, menjadi semacam panggung. Orang datang membawa cerita masing-masing. Ada yang datang sebagai wisatawan, sebagai pekerja, investor, perantau, dan ada pula yang datang untuk melarikan diri dari kehidupan sebelumnya.

Mereka semua hidup di pulau yang sama, tetapi tidak selalu mengalami Bali yang sama. Bagi sebagian orang Bali, Purnama mungkin adalah hari ketika seseorang pulang lebih awal, menyiapkan canang, mengenakan pakaian adat, sembahyang, atau sekadar berhenti sejenak dari kesibukan. Bagi orang lain, Purnama mungkin hanya tanggal biasa di kalender. Di kota, tanda-tanda hari suci semakin mudah terlewatkan. Bukan karena Purnama menghilang. Purnama tetap datang, bulan tetap penuh, canang masih diletakkaan, dan orang Bali masih sembahyang. Tetapi kota telah berubah sedemikian rupa sehingga tanda-tanda itu tidak lagi menjadi pengalaman bersama bagi semua orang.

Saya kira ini bukan sesuatu yang harus ditakuti secara berlebihan. Bali memang berubah. Pulau ini tidak mungkin menjadi ruang yang beku, yang setiap sudutnya harus mempertahankan bentuk masa lalu. Orang datang dan pergi. Bahasa, makanan, dan pekerjaan berubah. Rumah berubah menjadi kos, vila, penginapan, restoran, kantor, atau ruang usaha. Bahkan manusia yang tinggal di dalamnya juga berubah.

Perubahan demografi semacam ini sebenarnya tidak hanya mengubah siapa yang tinggal di Bali. Ia juga mengubah cara ruang sosial digunakan. Dulu, sebuah lingkungan mungkin lebih mudah mengenali siapa yang tinggal di rumah sebelah. Sekarang, rumah di sebelah bisa menjadi kos yang penghuninya berganti-ganti. Warung yang dulu menjadi tempat bertemu tetangga kini menjadi tempat pekerja dari berbagai daerah makan siang. Kafe menjadi kantor, rumah menjadi penginapan, dan jalan lingkungan menjadi jalur kendaraan wisatawan.

Kota perlahan kehilangan sebagian sifatnya sebagai tempat tinggal dan berubah menjadi tempat persinggahan. Di titik ini, kehidupan digital nomad menjadi menarik untuk dilihat bukan semata-mata sebagai persoalan gaya hidup, tetapi sebagai bagian dari perubahan cara manusia berhubungan dengan tempat. Bagi manusia modern, tempat tinggal tidak selalu harus berarti tempat menetap. Tempat tinggal dapat menjadi sesuatu yang sementara. Rumah dapat berupa kamar selama tiga bulan. Kantor dapat berupa meja di kafe. Pertemanan dapat berlangsung intens selama beberapa minggu, kemudian berakhir ketika seseorang pindah ke kota lain.

Kita hidup dalam zaman ketika perpindahan menjadi lebih mudah, tetapi mungkin rasa memiliki tempat justru menjadi lebih sulit. Ada orang yang dapat bekerja dari Bali tetapi tidak merasa menjadi bagian dari Bali. Ada yang tinggal bertahun-tahun di Bali tetapi tetap merasa sebagai pendatang, ada pula orang Bali yang lahir dan besar di pulau ini tetapi merasa asing terhadap perubahan di kampung halamannya sendiri.

Barangkali di situlah makna “pulang” menjadi rumit. Pulang tidak selalu berarti kembali ke alamat rumah masa kecil. Pulang bisa berarti menemukan sebuah tempat di mana kita tidak perlu terus-menerus menjelaskan siapa diri kita. Tempat di mana kita mengenal tetangga dan tetangga mengenal kita,  tempat di mana seseorang tahu kapan kita sedang baik-baik saja dan kapan sebenarnya kita sedang tidak baik-baik saja.

Dalam kehidupan yang semakin mobile, kebutuhan semacam itu justru tidak hilang. Penelitian tentang para digital nomad di Bali memperlihatkan bahwa mobilitas tinggi tidak selalu menjadi tujuan akhir. Sebagian partisipan justru membayangkan masa depan yang lebih stabil. Mereka mungkin tetap ingin memiliki kebebasan, tetapi kebebasan itu tidak harus berarti terus berpindah.

Mungkin manusia memang membutuhkan dua hal yang tampaknya bertentangan, yaitu kebebasan untuk pergi dan alasan untuk tinggal. Kita membutuhkan pintu yang bisa dibuka untuk keluar, tetapi juga sebuah pintu yang membuat kita ingin kembali. Saya sendiri melihat hal semacam itu dalam kehidupan kota. Orang datang ke Denpasar, Badung, Gianyar, atau daerah lain di Bali dengan berbagai alasan. Mereka ingin bekerja, mencari pengalaman, mengubah nasib, dan mereka ingin memulai kembali.

Tidak ada yang salah dengan itu. Pindah tempat bukan kesalahan. Bahkan dalam banyak keadaan, pindah tempat adalah keputusan yang sehat dan masuk akal. Lingkungan yang buruk memang bisa membuat seseorang tertekan. Kesempatan kerja memang berbeda-beda di setiap daerah. Ada orang yang memang harus pergi agar dapat menemukan kehidupan yang lebih layak. Karena itu, masalahnya bukan pada perpindahan. Masalahnya muncul ketika kita percaya bahwa perpindahan itu sendiri adalah obat.

Bali bisa memberi kita pekerjaan baru, tetapi belum tentu memberi kita ketenangan. Memberi kita teman baru, tetapi belum tentu memberi kita kedekatan. Memberi kita pemandangan baru, tetapi belum tentu memberi kita cara pandang baru terhadap diri sendiri. Dan Bali bisa memberi kita rumah baru, tetapi belum tentu membuat kita merasa pulang. Mungkin karena itu, saya teringat kembali Purnama. Bulan tidak pernah pindah tempat untuk menjadi penuh. Ia datang kembali pada waktunya. Manusia justru sebaliknya. Kita sering berpindah-pindah karena mengira kebahagiaan ada di tempat berikutnya. Kita mengejar kota lain, pekerjaan lain, rumah lain, pasangan lain, lingkungan lain, bahkan identitas lain.

Kemudian setelah semuanya didapatkan, kita bertanya-tanya mengapa masih ada sesuatu yang terasa kurang. Mungkin yang kurang bukan tempat, melainkan kita belum selesai dengan diri sendiri. Maka, menurut dr. Rai, ketika seseorang berkata, “Saya ingin pindah ke Bali,” ia tidak akan buru-buru mengatakan jangan. Pergilah jika memang Bali menawarkan kehidupan yang lebih baik, jika pekerjaan di sana lebih memungkinkan. Pergilah jika lingkungan baru dapat menyelamatkanmu dari situasi yang memang tidak sehat.

Tetapi sebelum membeli tiket, mungkin ada satu pertanyaan yang layak dibawa bersama koper, yakni pertanyaan “dari apa sebenarnya saya ingin pindah?. Sebab bisa saja kita pindah untuk mencari kehidupan baru. Tetapi bisa juga, tanpa sadar, kita hanya sedang membawa kehidupan lama ke alamat yang baru.

Dan pada suatu malam, ketika Purnama kembali penuh di langit Bali, kita mungkin baru menyadari, bahwa tempat yang selama ini kita cari bukanlah Bali, Jakarta, atau Canggu. Bukan kota mana pun. Barangkali yang kita cari adalah sebuah tempat untuk akhirnya merasa cukup. Sebuah tempat untuk berhenti sebentar, tempat yang tidak membuat kita terus-menerus ingin pergi. Sebuah tempat yang, ketika kita menyebutnya sebagai rumah, tidak perlu lagi kita jelaskan kepada siapa pun.

Tempat itu mungkin berada di luar diri kita. Tetapi mungkin juga, selama ini, ia sedang kita cari di dalam diri sendiri. Dan mungkin, di tengah kota yang semakin ramai, Purnama justru mengajarkan sesuatu yang sederhana; tidak semua yang penting harus terdengar ramai.

Ada hal-hal yang tetap berlangsung diam-diam. Orang-orang masih menaruh canang di depan rumah. Ada yang masih bangun pagi untuk mempersiapkan persembahyangan, ada keluarga yang masih berkumpul. Dan, ada seseorang yang mungkin sedang duduk sendirian di balkon kos, memandangi bulan tanpa tahu bahwa malam itu adalah Purnama.

Kota boleh berubah. Penduduk boleh berganti, bahasa di warung boleh semakin beragam, gedung-gedung boleh bertambah tinggi, dan jalan-jalan boleh semakin padat. Tetapi mungkin yang perlu kita pertahankan bukanlah Bali yang tidak berubah. Yang perlu dipertahankan adalah kemampuan manusia untuk masih merasakan tempat yang ditinggalinya.

Sebab persoalan terbesar sebuah kota bukan hanya ketika penduduknya bertambah banyak, melainkan ketika orang-orang yang tinggal di dalamnya tidak lagi merasa memiliki hubungan dengan tempat tersebut. Pada akhirnya, Purnama bukan sekadar bulan penuh. Ia adalah penanda waktu yang mengingatkan bahwa ada sesuatu yang berulang di tengah segala perubahan.

Manusia boleh datang dan pergi. Rumah boleh berganti penghuni. Kota boleh berubah wajah. Tetapi selalu ada saat ketika kita berhenti dan menyadari bahwa kita sedang berada di suatu tempat. Mungkin itulah yang semakin sulit kita lakukan hari ini; berhenti. Kita terlalu mudah berpindah, pergi. Terlalu mudah mengatakan, “Mungkin hidup saya akan lebih baik di tempat lain.”

Padahal barangkali, sebelum pergi, kita perlu melihat lebih lama tempat kita berdiri, melihat jalan di depan rumah., tetangga, melihat langit dan Purnama. Dan bertanya kepada diri sendiri; apakah yang sebenarnya ingin saya cari? Sebab boleh jadi, setelah perjalanan yang panjang, kita akhirnya kembali pada sebuah kesadaran yang sederhana, bahwa pulang bukan selalu tentang kembali ke suatu tempat. Pulang adalah ketika kita akhirnya tidak lagi merasa harus pergi.

*) I Ketut Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis yang tinggal di Denpasar, Bali. Ia pernah menempuh pendidikan Antropologi Budaya di Universitas Udayana dan aktif menulis esai, puisi, serta artikel jurnalistik. Sejumlah tulisannya terbit di berbagai media, antara lain KanalBali, Tatkala.co, dan Podiumnews.com. Ia telah menerbitkan sejumlah buku puisi dan esai.

Berita Terkait