Agustus 13, 2026

Menjadi Orang Jembrana di Denpasar

Oleh Angga Wijaya*

 “Jangan degag.”

SAYA tidak ingat siapa yang pertama kali mengucapkan dua kata itu kepada saya. Mungkin ibu, bapak, atau seorang tetua di banjar.

Yang saya ingat hanyalah nadanya. Tidak keras, tidak pula marah. Dua kata itu selalu diucapkan pelan, seolah orang-orang tua di kampung saya percaya bahwa watak manusia tidak dibentuk oleh bentakan, melainkan oleh nasihat yang sabar diulang-ulang.

Semasa kecil di Negara, Jembrana, saya menganggapnya sebagai teguran biasa. Sama seperti larangan bermain terlalu jauh menjelang malam atau berlari di halaman pura. Saya tidak pernah bertanya apa arti sebenarnya. Saya hanya tahu, setiap kali seseorang mulai berbicara terlalu keras, merendahkan orang lain, atau kehilangan kendali atas ucapannya, selalu ada suara yang mengingatkan.

“Jangan degag.”

Bertahun-tahun kemudian saya baru memahami bahwa yang dijaga bukan hanya lisan. Yang dijaga adalah martabat. Ironisnya, saya baru mengerti makna dua kata itu setelah meninggalkan kampung halaman.

Pada 2002 saya berangkat dari Negara menuju Denpasar. Saya tidak langsung menjadi mahasiswa Antropologi Budaya seperti yang sering saya ceritakan. Perjalanan saya justru dimulai dari Program Pendidikan Bahasa Inggris Diploma I di Laboratorium Bahasa Universitas Udayana. Setahun kemudian, saya melanjutkan ke Program Studi Sastra Inggris Program Ekstensi di Fakultas Sastra Universitas Udayana.

Saya hanya bertahan sekitar setahun.  Ada sesuatu yang terasa belum saya temukan. Saya menyukai bahasa Inggris, tetapi saya lebih tertarik kepada manusia yang menggunakan bahasa itu. Mengapa satu kata dapat dimaknai berbeda di tempat yang berbeda? Mengapa kebiasaan yang dianggap wajar di satu lingkungan terasa asing di lingkungan lain?

Rasa ingin tahu itulah yang membawa saya mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru pada 2004. Saya diterima di Program Studi Antropologi Budaya Fakultas Sastra Universitas Udayana. Untuk pertama kalinya saya merasa menemukan rumah intelektual.

Antropologi tidak mengajari saya menghafal kebudayaan, ia mengajari saya untuk menunda penilaian. Saya belajar bahwa di balik setiap kebiasaan selalu ada sejarah, di balik setiap ucapan selalu ada pengalaman. Dan di balik setiap manusia selalu ada kehidupan yang tidak tampak dari permukaan.

Saat itu semua masih terdengar sebagai teori. Saya belum tahu bahwa suatu hari teori-teori itu akan diuji oleh kehidupan sendiri. Tahun-tahun kuliah menjadi masa yang menyenangkan. Saya bertemu teman-teman dari berbagai daerah di Bali dan luar Bali. Kami membawa logat, kebiasaan, dan cara berpikir yang berbeda. Di ruang-ruang diskusi itulah saya mulai menyadari bahwa dunia jauh lebih luas daripada kampung yang membesarkan saya.

Sebagai anak Jembrana, saya terbiasa dengan keterusterangan. Di warung kopi, orang bisa berdebat cukup keras, tetapi beberapa menit kemudian kembali tertawa sambil menyeruput kopi. Di Denpasar saya belajar bahwa tidak semua ruang memiliki irama yang sama. Ada kalanya keterusterangan yang saya anggap biasa justru terdengar melukai.

Tidak ada dosen yang mengajari saya soal itu. Kehidupanlah yang menjadi guru. Saya mulai belajar membaca situasi, memilih kata, dan memahami bahwa menghormati orang lain tidak berarti kehilangan keberanian untuk berbicara.

Namun, ketika saya mulai merasa telah menemukan arah hidup, jalan itu tiba-tiba berbelok. Menjelang akhir masa studi saya mengalami skizofrenia.

Perkuliahan terhenti, cuti akademik tidak sempat diurus. Saya pulang ke Negara. Bus yang membawa saya kembali melewati jalan yang sama ketika dulu saya berangkat dengan penuh harapan. Bedanya, kali ini saya tidak membawa mimpi tentang wisuda. Saya membawa tubuh dan batin yang sedang belajar menerima kenyataan.

Ada masa ketika saya malu karena tidak mampu menyelesaikan kuliah. Teman-teman mulai lulus, sebagian bekerja, sebagian melanjutkan pendidikan. Sementara saya harus memulai hari dengan jadwal berobat dan pemulihan.

Hari-hari di Negara berjalan jauh lebih lambat. Saya kembali duduk di warung kopi. Mendengar percakapan tentang panen, harga cengkih, anak-anak yang merantau, dan kabar tetangga.

Dulu semua itu terdengar biasa. Kini saya melihatnya sebagai pelajaran. Saya mulai menyadari bahwa kebudayaan tidak hanya hidup di ruang kuliah atau buku-buku antropologi.

Ia hidup dalam percakapan sehari-hari; dalam cara orang menyapa, cara mereka berbeda pendapat, juga cara mereka saling mengingatkan tanpa mempermalukan. Hari-hari pemulihan mengajarkan saya sesuatu yang tidak pernah saya temukan di ruang kuliah; bahwa manusia memiliki batas.

Selama menjadi mahasiswa, saya terbiasa membayangkan hidup sebagai garis lurus, yakni kuliah, lulus, bekerja. Ternyata hidup lebih sering bergerak seperti sungai. Ia berbelok, melambat, kadang menghantam batu, lalu menemukan jalannya sendiri.

Butuh waktu yang panjang untuk menerima bahwa saya tidak membawa pulang ijazah Antropologi Budaya. Penerimaan itu tidak datang sekaligus. Ada hari-hari ketika saya merasa gagal, dan ketika saya bertanya mengapa jalan hidup saya berbeda dengan teman-teman yang lain.

Namun, perlahan saya memahami bahwa hidup tidak selalu meminta kita menyelesaikan semua rencana. Kadang ia justru mengajarkan sesuatu melalui rencana yang tidak pernah selesai.

Di masa pemulihan itu saya kembali membaca buku-buku yang masih tersimpan di rumah. Sebagian adalah buku antropologi yang pernah menemani masa kuliah. Saya tidak selalu membacanya sampai selesai. Kadang saya hanya membuka beberapa halaman, lalu menutupnya kembali.

Aneh rasanya. Saya memang meninggalkan kampus, tetapi cara berpikir yang saya pelajari di sana tidak pernah benar-benar meninggalkan saya. Saya tetap bertanya, tetap ingin memahami manusia. Saya tetap penasaran mengapa orang dapat memandang dunia dengan cara yang berbeda.

Mungkin, tanpa saya sadari, antropologi telah berubah dari mata kuliah menjadi cara memandang kehidupan. Beberapa tahun kemudian, ketika kondisi saya semakin stabil, muncul keinginan untuk kembali ke Denpasar.

Kali ini saya tidak datang sebagai mahasiswa. Saya datang sebagai seseorang yang ingin memulai hidup sekali lagi. Akhir 2014, saya kembali menginjakkan kaki di kota itu.

Denpasar tidak banyak berubah. Jalan-jalan yang dulu saya lewati menuju kampus masih ramai. Warung-warung makan yang pernah saya datangi sebagian masih bertahan. Namun, saya bukan lagi anak muda yang sibuk mengejar ruang kuliah.

Saya membawa map berisi lamaran kerja. Kota yang dahulu saya datangi untuk belajar, kini saya datangi untuk mencari kesempatan kedua. Kesempatan itu datang melalui dunia jurnalistik.

Pada awalnya saya hanya ingin bekerja. Belakangan saya menyadari bahwa menjadi wartawan adalah cara hidup mempertemukan saya kembali dengan antropologi. Kalau dahulu saya belajar manusia melalui buku, kini manusia sendiri menjadi buku itu.

Setiap liputan adalah satu bab, setiap narasumber adalah satu perpustakaan kecil yang menyimpan pengalaman hidupnya masing-masing. Saya mewawancarai kepala daerah, seniman, petani, nelayan, guru, pelaku UMKM, penyintas gangguan jiwa, dan banyak orang yang namanya mungkin tidak pernah muncul di halaman depan surat kabar.

Semakin lama bekerja, semakin saya memahami bahwa tidak ada manusia yang dapat dijelaskan hanya oleh satu peristiwa. Sering kali, cerita yang paling penting justru muncul setelah alat perekam dimatikan. “Yang ini jangan ditulis ya,” kata seorang narasumber suatu sore. Lalu ia mulai bercerita tentang ibunya yang sedang sakit.

Cerita itu memang tidak pernah masuk ke dalam berita. Namun, justru cerita itulah yang paling lama tinggal di kepala saya. Sejak saat itu saya semakin percaya bahwa tugas wartawan bukan hanya mengumpulkan fakta.

Tugas wartawan adalah menjaga agar manusia tidak hilang di balik fakta. Mungkin karena pernah mengalami masa ketika hidup saya sendiri berubah hanya dalam hitungan hari, saya menjadi lebih berhati-hati ketika menulis tentang kehidupan orang lain.

Saya tahu betapa mudahnya seseorang dinilai hanya dari satu kejadian. Saya juga tahu betapa hidup selalu lebih panjang daripada berita yang kita baca hari ini.

Di ruang redaksi, di ruang wawancara, dan di perjalanan menuju lokasi liputan, saya diam-diam kembali belajar menjadi mahasiswa. Bedanya, kali ini dosen saya adalah kehidupan. Dan ruang kuliah saya adalah perjumpaan dengan manusia.

Beberapa waktu lalu, saya membaca pemberitaan tentang seorang penjahit asal Jembrana yang berselisih dengan pelanggannya di Badung. Perselisihan yang semula berkaitan dengan pekerjaan berkembang menjadi perbincangan yang menyerempet identitas asal daerah. Potongan video beredar cepat di media sosial. Orang-orang berdebat. Sebagian menghakim, sebagian membela. Belakangan, kedua belah pihak memilih berdamai melalui mediasi.

Saya tidak mengenal mereka secara pribadi. Saya juga tidak ingin menjadikan peristiwa itu sebagai ruang untuk menentukan siapa yang paling benar. Namun, sebagai orang Jembrana yang telah belasan tahun tinggal di Denpasar, peristiwa itu menyisakan pertanyaan yang terus mengikuti saya.

Bagaimana seharusnya saya membawa identitas sebagai orang Jembrana ketika hidup di tengah masyarakat yang jauh lebih beragam? Pertanyaan itu membawa saya kembali kepada perjalanan yang telah saya tempuh.

Saya teringat ruang kuliah antropologi yang mengajarkan agar tidak tergesa-gesa menyimpulkan. Juga, saya teringat masa pemulihan yang mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki luka yang tidak selalu terlihat.

Saya teringat ruang redaksi yang setiap hari mengingatkan bahwa satu kutipan tidak pernah cukup untuk menjelaskan seluruh kehidupan seseorang. Semua pengalaman itu perlahan mengubah cara saya memandang identitas.

Saya tidak lagi melihat identitas sebagai sesuatu yang harus terus-menerus diumumkan. Identitas lebih sering tampak dalam sikap. Dalam cara kita menyapa orang yang baru dikenal, kesediaan mendengar sebelum berbicara, kemampuan meminta maaf ketika keliru, dan keberanian mengakui bahwa pandangan kita tidak selalu benar.

Belasan tahun tinggal di Denpasar justru membuat saya semakin memahami Jembrana. Kalimat itu mungkin terdengar ganjil. Namun, jarak sering kali membuat kita melihat kampung halaman dengan lebih jernih.

Saya mulai mengerti bahwa orang-orang tua di Negara tidak sedang mengajarkan anak-anaknya agar menjadi penurut ketika berkata, “Jangan degag.” Mereka sedang mengajarkan tanggung jawab.

Bahwa setiap kata memiliki akibat, bahwa kemarahan yang dilepaskan tanpa kendali dapat melukai lebih jauh daripada yang kita bayangkan. Bahwa keberanian berbicara harus berjalan bersama penghormatan kepada orang lain.

Kini saya tidak lagi memaknai keterusterangan sebagai keberanian mengatakan apa saja. Keterusterangan yang sejati adalah keberanian mengatakan yang benar tanpa merendahkan martabat orang lain.

Saya tetap bangga menjadi orang Jembrana. Namun, kebanggaan itu tidak saya ukur dari seberapa sering saya menyebut nama daerah asal saya. Saya lebih ingin mengukurnya dari hal-hal yang sederhana; apakah orang lain merasa dihargai setelah berbicara dengan saya. Apakah tulisan yang saya hasilkan berusaha berlaku adil kepada narasumber. Apakah saya masih bersedia mengubah pendapat ketika kenyataan menunjukkan bahwa saya keliru.

Mungkin itulah cara paling sederhana mencintai kampung halaman. Bukan dengan menganggapnya paling baik, melainkan dengan membawa nilai-nilai terbaik yang diajarkannya ke mana pun kita pergi.

Semakin lama saya menjalani profesi sebagai wartawan, semakin saya percaya bahwa manusia tidak pernah dapat dipahami hanya melalui asal daerahnya, agamanya, pekerjaannya, atau satu kesalahan yang pernah dilakukannya.

Setiap orang selalu lebih luas daripada label yang dilekatkan kepadanya. Dan mungkin, pelajaran itulah yang diam-diam telah diajarkan Jembrana kepada saya sejak kecil, jauh sebelum saya mengenal antropologi, jurnalistik, atau bahkan memahami arti dua kata yang dulu begitu sering saya dengar.

“Jangan degag.”

Kini saya tidak lagi menghitung berapa kali menempuh perjalanan dari Denpasar ke Negara, atau sebaliknya. Jalan yang saya lalui tidak banyak berubah.

Bus tetap melintas di antara sawah, perbukitan, dan garis pantai yang sejak kecil saya kenal. Terminal, warung makan, dan deretan pohon yang pernah menjadi penanda perjalanan masih ada, meski sebagian telah berganti wajah.

Yang berubah adalah cara saya memandang semuanya. Dulu saya berangkat dengan keyakinan bahwa masa depan berada di kota. Kemudian saya pulang dengan perasaan bahwa hidup telah mengambil sesuatu dari saya.

Hari ini saya menyadari, perjalanan itu ternyata tidak pernah sekadar membawa saya dari satu tempat ke tempat lain. Ia membawa saya dari keyakinan menuju keraguan, dari keraguan menuju penerimaan. Dan dari penerimaan menuju keinginan untuk terus belajar.

Saya memang tidak membawa pulang ijazah Antropologi Budaya. Namun, saya membawa pulang cara memandang manusia yang sampai hari ini masih saya pelajari. Saya tidak pernah berhenti menjadi murid; murid dari kehidupan, murid dari orang-orang yang saya wawancarai, murid dari kegagalan yang pernah saya alami. Murid dari kampung halaman yang mengajari saya melalui kalimat-kalimat pendek, bukan melalui pidato yang panjang.

Sesudah belasan tahun menjadi wartawan, saya semakin percaya bahwa berita terbaik bukanlah berita yang paling cepat terbit. Berita terbaik adalah berita yang tetap menjaga manusia di dalamnya. Keyakinan itu saya bawa setiap kali membuka buku catatan, setiap kali menyalakan alat perekam, setiap kali memilih satu kata dan menghapus kata yang lain.

Barangkali, tanpa saya sadari, di situlah Jembrana terus hidup. Bukan hanya dalam logat yang sesekali masih terdengar, bukan hanya dalam ingatan tentang rumah masa kecil. Melainkan dalam cara saya berusaha memperlakukan orang lain.

Saya tidak tahu apakah saya sudah berhasil menjalankan semua pelajaran itu. Sering kali saya masih tergesa-gesa. Masih keliru, masih menyesali kata-kata yang telanjur keluar atau kalimat yang seharusnya bisa ditulis dengan lebih adil.

Namun, mungkin menjadi manusia memang bukan tentang mencapai kesempurnaan. Menjadi manusia adalah kesediaan untuk terus memperbaiki diri. Sesekali, ketika pulang ke Negara, saya masih duduk di warung kopi yang tidak banyak berubah. Percakapan mengalir seperti dulu; tentang panen, cuaca, tentang anak-anak yang merantau, tentang kabar orang-orang yang lama tidak bertemu.

Saya lebih banyak mendengar. Barangkali usia memang membuat seseorang lebih menikmati mendengar daripada berbicara. Di tengah percakapan yang sederhana itu, saya sering merasa seperti pulang ke ruang kelas pertama dalam hidup saya.

Bukan ruang kuliah atau ruang redaksi, melainkan ruang tempat saya pertama kali belajar menjadi manusia. Perjalanan itu rupanya belum selesai. Mungkin memang tidak akan pernah selesai. Masih akan ada jalan yang harus ditempuh, masih akan ada orang-orang baru yang akan saya temui, masih akan ada kesalahan yang harus saya akui dan pelajaran yang harus saya pelajari.

Dan mungkin, itulah makna pulang yang sesungguhnya. Bukan kembali ke tempat kita dilahirkan, melainkan kembali kepada nilai-nilai yang diam-diam membentuk kita, sejauh apa pun kita pergi.

Dalam perjalanan pulang berikutnya, bus kembali melintasi jalan yang sama. Saya memandang keluar jendela; sawah masih hijau, langit menjelang senja perlahan berubah warna.

Entah mengapa, saya tiba-tiba teringat suara yang sangat akrab dari masa kecil. Saya tersenyum kecil. Ternyata, saya membutuhkan waktu lebih dari dua puluh tahun untuk mulai memahami nasihat itu. “Jangan degag.”

 

*) Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair. Sejak 2018 ia telah menulis 20 buku, kumpulan puisi dan buku kumpulan esai. Ia dapat dijumpai di akun Instagram: @anggawijaya548.

 

 

 

Berita Terkait