Agustus 13, 2026

Oleh Angga Wijaya*

 

BARANGKALI hanya Piala Dunia yang sanggup membangunkan begitu banyak orang pada dini hari tanpa merasa dipaksa.

Kamis, 16 Juli 2026. Pukul tiga dini hari pertandingan semifinal Piala Dunia antara Inggris dan Argentina dimulai. Saya tidak menontonnya. Sepak bola bukan olahraga yang saya ikuti dengan tekun. Saya tidak hafal susunan pemain, tidak pula memahami mengapa sebuah formasi dianggap lebih baik daripada yang lain. Namun saya tahu pertandingan itu sedang berlangsung.

Bukan karena suara komentator televisi, melainkan karena telepon genggam saya nyaris tak berhenti berbunyi. Sebuah grup WhatsApp yang saya ikuti mendadak hidup. Anggotanya bukan komunitas pencinta sepak bola, melainkan pejabat, aparatur sipil negara, wartawan, akademisi, dan sejumlah tokoh masyarakat di Bali.

Biasanya percakapan mereka berkisar pada agenda pemerintahan, pembangunan daerah, atau informasi sehari-hari. Dini hari itu, semua pembicaraan mengarah ke satu titik; Inggris melawan Argentina.

Menjelang pertandingan usai, notifikasi datang bertubi-tubi. Ada yang meneriakkan “goool”, ada yang membagikan potongan video, ada pula yang mengirim meme beberapa detik setelah gol tercipta. Rasanya seperti ada kesepakatan tak tertulis bahwa siapa pun yang tidak ikut berkomentar akan tertinggal dari sebuah pengalaman bersama.

Di luar kamar, suasananya tidak jauh berbeda. Beberapa penghuni rumah kos terdengar bersorak. Selama tinggal berdampingan, saya tidak pernah mendengar mereka memperdebatkan liga-liga Eropa atau membicarakan hasil pertandingan setiap akhir pekan. Namun pagi itu, dinding kamar terasa tipis oleh suara kegembiraan. Matahari bahkan belum terbit, tetapi euforia telah lebih dahulu menyingsing.

Saya menikmati suasana itu dari kejauhan. Yang menarik perhatian saya bukan pertandingan di lapangan, melainkan orang-orang yang menyaksikannya.

Malam sebelumnya saya sempat menggoda seorang teman yang sengaja tidur lebih awal agar bisa bangun menonton pertandingan.

“Pengamat sepak bola bukan, pemain juga bukan.” Ia tertawa.

Saya menambahkan, “Budaya massa. Ikut-ikutan orang banyak.” Percakapan berhenti di sana. Namun dini hari berikutnya, telepon genggam saya seperti sedang menjawab percakapan semalam.

Saya kemudian bertanya kepada diri sendiri; mengapa sebuah pertandingan sepak bola mampu mengubah ritme kehidupan begitu banyak orang? Mengapa mereka yang sehari-hari nyaris tidak pernah berbicara tentang sepak bola mendadak fasih menjelaskan strategi, menyalahkan pelatih, atau memuji pemain tertentu? Mengapa kita merasa perlu ikut berbicara ketika semua orang sedang berbicara?

Dalam kajian budaya, fenomena semacam itu dikenal sebagai budaya massa. Ia bukan sekadar sesuatu yang disukai banyak orang, melainkan pengalaman bersama yang dibentuk dan disebarluaskan melalui media. Dahulu televisi menjadi panggung utamanya. Kini internet, media sosial, dan aplikasi percakapan mengambil alih peran itu. Kita tidak hanya menyaksikan pertandingan yang sama, tetapi juga menyaksikan jutaan orang lain sedang menyaksikan pertandingan yang sama.

Pertandingannya mungkin hanya berlangsung sembilan puluh menit. Namun percakapannya dapat bertahan berhari-hari. Di situlah saya merasa Piala Dunia bukan sekadar pertandingan sepak bola. Ia menjadi cermin tentang bagaimana budaya massa bekerja di tengah masyarakat digital. Bukan lagi sekadar menyatukan perhatian, melainkan membentuk dorongan untuk ikut hadir dalam percakapan.

Barangkali, yang sedang saya amati bukanlah sebelas pemain yang berlari di lapangan. Yang sedang saya amati adalah kita. Percakapan bersama itu, saya kira, tidak lahir begitu saja.

Media memiliki kemampuan memusatkan perhatian jutaan orang pada satu peristiwa dalam waktu yang sama. Dulu televisi menjadi pusatnya. Kini peran itu diambil alih oleh internet, media sosial, dan aplikasi percakapan. Pertandingan selesai di stadion, tetapi terus hidup di layar telepon genggam melalui potongan video, statistik, meme, dan komentar yang datang tanpa henti.

Dalam psikologi sosial, kecenderungan mengikuti sesuatu karena banyak orang lain juga melakukannya dikenal sebagai bandwagon effect. Kita terdorong ikut masuk ke dalam percakapan bukan semata-mata karena tertarik pada topiknya, melainkan karena hampir semua orang sedang membicarakannya.

Fenomena itu tidak hanya muncul ketika Piala Dunia berlangsung. Ketika sebuah lagu menjadi viral, kita ikut mendengarnya. Ketika sebuah film ramai dibicarakan, kita tergoda menontonnya. Ketika sebuah kedai kopi dipenuhi antrean, kita penasaran mencobanya. Atau, ketika seorang tokoh mendadak menjadi perbincangan nasional, kita merasa perlu mengetahui siapa dia.

Sebagian lahir dari rasa ingin tahu. Sebagian lain lahir dari rasa takut tertinggal. Hari ini, perasaan itu dikenal sebagai fear of missing out atau FOMO. Kita khawatir menjadi satu-satunya orang yang tidak memahami topik yang sedang memenuhi ruang percakapan. Akibatnya, kita bukan hanya menjadi penonton. Kita merasa perlu menjadi peserta.

Saya tidak sedang mempersoalkan sepak bola. Olahraga ini telah melahirkan kisah tentang sportivitas, kerja sama, dan harapan. Yang menarik perhatian saya justru pertandingan di luar lapangan, yakni, pertandingan memperebutkan perhatian.

Setiap orang seperti merasa perlu mengatakan sesuatu. Padahal, tidak semua benar-benar memahami apa yang sedang mereka komentari.

Saya teringat kembali suasana grup WhatsApp dini hari itu. Beberapa menit setelah pertandingan usai, analisis bermunculan. Ada yang menyalahkan strategi pelatih. Ada yang mempersoalkan pergantian pemain, juga ada merasa wasit keliru mengambil keputusan. Saya tidak tahu siapa yang benar. Namun saya melihat satu hal yang menarik, bahwa hampir semua terdengar sangat yakin.

Fenomena semacam itu tidak hanya terjadi dalam sepak bola. Hari ini seseorang menjadi analis pertandingan besok ia berbicara tentang ekonomi. Lusa ia menjelaskan hukum, minggu depan ia membahas geopolitik.

Ketika pandemi Covid-19 melanda beberapa tahun lalu, media sosial juga dipenuhi orang-orang yang tiba-tiba merasa memiliki jawaban atas persoalan kesehatan. Informasi ilmiah bercampur dengan teori konspirasi, kabar bohong, dan berbagai saran yang tidak jelas sumbernya.

Psikologi mengenal Dunning–Kruger effect, yaitu kecenderungan sebagian orang melebih-lebihkan pemahamannya terhadap suatu bidang. Konsep ini tentu tidak berlaku untuk setiap orang yang percaya diri, tetapi ia mengingatkan bahwa keyakinan tidak selalu sejalan dengan kedalaman pengetahuan.

Barangkali, yang semakin langka hari ini bukan orang yang berpendapat. Melainkan orang yang berani berkata, “Saya belum tahu.”

Barangkali perubahan terbesar dalam dua dasawarsa terakhir bukanlah cara kita memperoleh informasi, melainkan cara kita bereaksi terhadapnya.

Dahulu, percakapan memiliki ruang dan waktunya sendiri. Orang-orang berdebat di warung kopi, di bale banjar, di pos ronda, atau di ruang tamu. Percakapan berakhir ketika mereka pulang. Esok hari, topiknya berganti dan hidup berjalan seperti biasa.

Kini, ruang-ruang itu berpindah ke dalam telepon genggam. Kolom komentar menjadi warung kopi baru. Grup WhatsApp menjadi bale banjar baru. Linimasa menjadi ruang tamu yang tidak pernah benar-benar sepi.

Reformasi 1998 membuka ruang kebebasan berpendapat yang lebih luas. Internet kemudian memperluas ruang itu hingga hampir setiap orang memiliki medianya sendiri. Kita tidak lagi sekadar menjadi pembaca atau penonton. Kita juga menjadi penyebar informasi, pembentuk opini, sekaligus komentator.

Itu adalah kemajuan yang patut disyukuri. Namun, setiap kemajuan selalu membawa konsekuensi. Kita semakin mudah berbicara, tetapi belum tentu semakin terampil mendengarkan.

Saya sering memperhatikan kolom komentar sebuah berita. Tidak sedikit orang bereaksi hanya setelah membaca judul. Ada yang langsung marah, ada yang buru-buru menyimpulkan, ada pula yang menyerang orang lain tanpa terlebih dahulu memahami duduk persoalannya. Kecepatan bereaksi sering kali mengalahkan kesabaran untuk memahami.

Psikolog John Suler menyebut salah satu gejala ini sebagai online disinhibition effect. Orang cenderung lebih berani, lebih keras, bahkan lebih kasar ketika berbicara melalui layar dibandingkan saat bertatap muka. Anonimitas, jarak, dan hilangnya ekspresi wajah membuat empati lebih mudah memudar.

Saya sering membayangkan satu hal. Bagaimana jika komentar yang kita tulis harus diucapkan langsung di hadapan orang yang menjadi sasarannya? Akankah kita tetap menggunakan kata-kata yang sama?

Pertanyaan itu terasa sederhana, tetapi jawabannya mungkin tidak. Di ruang digital, kita sering lupa bahwa setiap akun adalah manusia. Di balik sebuah foto profil ada kehidupan yang tidak kita kenal. Ada orang yang sedang kehilangan pekerjaan, ada yang merawat anggota keluarga yang saki dan ada pula yang sedang memikul persoalan yang tak pernah diceritakannya kepada siapa pun.

Namun semua kerumitan itu lenyap ketika yang kita lihat hanya sebuah unggahan. Ironisnya, algoritma media sosial lebih menyukai emosi daripada ketenangan. Kemarahan lebih cepat menyebar daripada kesabaran. Sindiran lebih mudah menarik perhatian daripada penjelasan yang hati-hati. Kontroversi sering kali memperoleh ruang lebih besar daripada percakapan yang jernih.

Tanpa sadar, kita belajar mengikuti logika itu. Akibatnya, hampir setiap peristiwa terasa meminta tanggapan. Hampir setiap isu terasa mendesak untuk dikomentari. Diam perlahan disalahartikan sebagai ketidaktahuan atau ketidakpedulian.

Padahal, tidak semua peristiwa membutuhkan suara kita, simpati, penelitian, waktu, dan ada pula yang membutuhkan keheningan.

Saya mulai percaya bahwa salah satu kecakapan yang paling berharga di era digital adalah kemampuan menunda komentar. Menunda bukan berarti takut berbicara. Menunda berarti memberi kesempatan kepada akal bekerja sebelum emosi mengambil alih. Menunda juga berarti menghormati fakta dan mengakui bahwa pengetahuan kita selalu memiliki batas.

Barangkali, di tengah dunia yang berlomba menjadi yang paling cepat berkomentar, keberanian untuk berkata, “Saya belum tahu,” justru menjadi tanda kedewasaan.

Pagi akhirnya benar-benar datang. Pertandingan selesai. Grup WhatsApp yang sejak dini hari riuh perlahan kembali membahas pekerjaan, agenda pemerintahan, dan rutinitas sehari-hari. Meme berhenti berdatangan. Potongan video gol tidak lagi memenuhi layar telepon genggam. Tetangga kos yang tadi bersorak kembali menutup pintu kamarnya. Sebagian mungkin melanjutkan tidur, sebagian lagi bersiap memulai hari.

Matahari terbit seperti pagi-pagi sebelumnya. Seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Namun saya tahu, keramaian itu sesungguhnya tidak hilang. Ia hanya berpindah. Hari ini tentang pertandingan sepak bola. Besok mungkin tentang pemilihan kepala daerah. Lusa tentang seorang artis. Minggu depan tentang perkara hukum. Topiknya selalu berganti, tetapi dorongan untuk segera ikut berkomentar tampaknya tetap sama.

Saya kemudian teringat percakapan singkat dengan teman saya malam sebelumnya. “Budaya massa.” Saat itu saya mengucapkannya sebagai gurauan. Kini saya menyadari bahwa persoalannya tidak sesederhana itu.

Mengikuti keramaian bukanlah kesalahan. Sejak dahulu manusia hidup dalam kelompok. Kita belajar dari orang lain, bekerja bersama orang lain, dan merayakan banyak hal bersama. Keinginan menjadi bagian dari sebuah komunitas adalah naluri yang ikut membentuk peradaban.

Yang patut diwaspadai adalah ketika kebersamaan berubah menjadi keseragaman. Ketika kita menyukai sesuatu hanya karena semua orang sedang menyukainya. Ketika kita membenci seseorang hanya karena linimasa sedang membencinya. Atau, ketika kita merasa wajib memiliki pendapat terhadap segala sesuatu agar tidak dianggap tertinggal.

Saya pun tidak sepenuhnya berada di luar lingkaran itu. Bukankah esai yang sedang Anda baca ini juga sebuah komentar? Ya. Saya juga sedang berkomentar. Bedanya, saya berharap komentar ini lahir dari keinginan memahami, bukan sekadar bereaksi. Sebab yang sedang saya amati sejak awal bukanlah sebelas pemain yang berlari di lapangan.

Yang sedang saya amati adalah kita. Dalam tradisi Bali, kita mengenal Tri Kaya Parisudha: manacika, berpikir yang baik; wacika, berkata yang baik; dan kayika, berbuat yang baik. Urutannya tidak pernah dibalik. Pikiran mendahului kata-kata, dan kata-kata mendahului tindakan.

Barangkali, pelajaran itulah yang paling mudah kita lupakan di era media sosial. Kita terlalu cepat berbicara, menyimpulkan, dan menghakimi.

Padahal, tidak setiap peristiwa membutuhkan suara kita. Ada kalanya sebuah berita cukup dibaca, musibah cukup didoakan, sebuah pendapat cukup direnungkan. Dan ada kalanya kalimat paling jujur yang dapat kita ucapkan adalah, “Saya belum tahu.”

Barangkali peradaban tidak diukur dari seberapa keras kita bersuara. Barangkali ia diukur dari kemampuan mengetahui kapan harus berbicara, kapan harus bertanya, dan kapan cukup mendengarkan. Di tengah dunia yang semakin bising, diam bukan lagi sekadar emas. Diam adalah kebijaksanaan.

*) Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair. Sejak 2018 ia telah menulis 20 buku, kumpulan puisi dan buku kumpulan esai. Ia dapat dijumpai di akun Instagram: @anggawijaya548.

 

Berita Terkait