Agustus 13, 2026

Gering Agung dan Pelajaran dari Pandemi

Oleh Angga Wijaya*

MASIH saya ingat ketika pandemi COVID-19 sedang berada pada puncaknya. Jalan-jalan di Denpasar lengang. Legian yang biasanya dipadati kendaraan berubah sepi. Pantai Kuta kehilangan hiruk pikuk wisatawan.

Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai seperti berhenti bernapas. Di tempat-tempat yang selama puluhan tahun menjadi simbol keramaian Bali, hanya terdengar suara angin dan sesekali deru kendaraan yang melintas. Kesunyian itu terasa asing.

Bali yang selama ini hidup dari perjumpaan mendadak dipaksa menjaga jarak. Orang-orang menutup pintu rumah lebih awal. Masker menjadi bagian dari pakaian sehari-hari. Upacara adat disederhanakan. Pesta pernikahan ditunda. Pelukan berubah menjadi lambaian tangan dari kejauhan.

Saat itulah saya teringat pada satu istilah yang sejak kecil kerap saya dengar dari orang-orang tua di kampung, yakni gering agung.

Mereka tidak menyebut pandemi. Mereka menyebutnya gering agung. Ada pula yang menyebut grubug. Dua istilah itu sudah hidup jauh sebelum dunia mengenal COVID-19. Dalam ingatan masyarakat Bali, gering agung bukan sekadar wabah penyakit. Ia adalah masa ketika kehidupan kehilangan keseimbangannya.

Bagi ilmu kedokteran, COVID-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2. Semua dapat dijelaskan melalui penelitian, laboratorium, dan epidemiologi. Tidak ada yang keliru dari penjelasan itu.

Namun, antropologi kesehatan mengajarkan bahwa penyakit tidak pernah hanya berhenti pada tubuh manusia. Ada tubuh sosial yang ikut sakit hubungan antarmanusia yang berubah dan ada kebudayaan yang ikut beradaptasi.

Dalam antropologi kesehatan dikenal dua istilah yang penting, yaitu disease dan illness. Disease adalah penyakit sebagaimana dipahami oleh dunia medis. Sementara illness adalah pengalaman manusia ketika menghadapi penyakit, lengkap dengan makna, keyakinan, ketakutan, hingga cara mencari kesembuhan.

COVID-19 adalah disease. Sedangkan gering agung adalah cara masyarakat Bali memberi makna terhadap pengalaman kolektif menghadapi wabah.

Perbedaan itu tampak sederhana, tetapi sesungguhnya sangat penting. Virus memang menyerang paru-paru. Namun, pandemi juga menyerang cara hidup manusia.

Saya masih mengingat bagaimana hotel-hotel menutup pintunya. Teman-teman yang bekerja sebagai pemandu wisata kehilangan tamu. Sopir pariwisata berhenti beroperasi. Pedagang suvenir menunggu pembeli yang tak kunjung datang.

Ada yang kembali ke desa, kembali mencangkul sawah, mulai menanam cabai, kangkung, dan pisang di pekarangan rumah. Pandemi seolah memaksa Bali mengingat kembali akar agrarisnya.

Peristiwa itu memperlihatkan bahwa kesehatan tidak hanya ditentukan oleh rumah sakit. Ketika seseorang kehilangan pekerjaan, kehilangan penghasilan, dan kehilangan harapan, kesehatan ikut terganggu.

Inilah yang dalam antropologi kesehatan disebut sebagai penentu sosial kesehatan (social determinants of health). Kesehatan dipengaruhi oleh ekonomi, pendidikan, lingkungan, pekerjaan, relasi sosial, bahkan kebijakan pemerintah.

Pandemi membuat pelajaran itu menjadi sangat nyata. Di sisi lain, saya juga menyaksikan bagaimana desa adat bergerak. Banjar mengumpulkan bantuan, tetangga saling mengantar makanan kepada warga yang menjalani isolasi mandiri. Pecalang ikut mengingatkan masyarakat agar mematuhi protokol kesehatan.

Beberapa desa adat menyusun aturan khusus selama masa pandemi. Tidak sedikit pula yang menggelar upacara sesuai tradisi masing-masing sebagai ikhtiar spiritual. Bagi sebagian orang, hal itu mungkin dianggap bertentangan dengan ilmu pengetahuan.

Saya justru melihatnya berbeda. Dalam antropologi kesehatan dikenal konsep pluralisme medis (medical pluralism), yaitu keadaan ketika masyarakat menggunakan lebih dari satu sistem kesehatan secara bersamaan.

Orang Bali tidak memilih antara rumah sakit atau doa. Mereka menjalankan keduanya. Datang ke puskesmas ketika sakit, mengikuti vaksinasi, patuh memakai masker. Namun, mereka juga tetap bersembahyang. Mereka tetap memohon keselamatan.

Bagi masyarakat Bali, ikhtiar medis dan ikhtiar spiritual tidak harus saling meniadakan. Keduanya adalah bentuk harapan. Saya juga belajar bahwa pandemi bukan hanya menghasilkan korban jiwa, ia juga melahirkan stigma.

Orang yang terpapar virus kadang dipandang dengan rasa curiga. Padahal mereka lebih membutuhkan dukungan daripada penilaian. Antropologi kesehatan mengingatkan bahwa stigma dapat memperburuk penyakit. Ketika seseorang takut dicap, ia bisa menunda pemeriksaan, menyembunyikan kondisinya, atau enggan mencari pertolongan. Karena itu, empati menjadi sama pentingnya dengan obat.

Pandemi juga mengubah cara kita memandang keramaian. Dulu kita menganggap keramaian sebagai tanda kehidupan. Ketika pandemi datang, keramaian justru menjadi sesuatu yang dihindari. Bali yang biasanya ramai mendadak menemukan makna baru dari kesunyian.

Kondisi itu memberi ruang untuk bertanya; apakah kita terlalu bergantung pada pariwisata? Apakah pembangunan selama ini sudah cukup kuat menghadapi krisis? Apakah kita masih memiliki cukup sawah ketika wisata berhenti?

Pertanyaan-pertanyaan itu masih relevan hingga hari ini. Bali memang telah bangkit, wisatawan kembali berdatangan, hotel kembali penuh, kafe kembali ramai. Namun, pandemi meninggalkan pelajaran yang tidak boleh ikut hilang.

Ia mengingatkan bahwa kesehatan bukan sekadar urusan dokter. Kesehatan juga urusan keluarga, tetangga, dan desa adat. Lebih dari itu, kesehatan juga urusan kebudayaan.

Pada akhirnya, saya melihat gering agung bukan sekadar istilah lama yang muncul kembali ketika COVID-19 datang. Ia adalah pengingat bahwa setiap wabah selalu menguji lebih dari sekadar tubuh manusia. Ia menguji solidaritas, kebijaksanaan, kemampuan beradaptasi, dan cara sebuah masyarakat menjaga keseimbangan hidupnya.

Barangkali itulah sebabnya orang Bali tidak hanya mengenang pandemi sebagai masa ketika virus menyebar. Mereka mengenangnya sebagai masa ketika manusia belajar kembali arti kebersamaan.

Di tengah segala keterbatasan, kita menyadari bahwa kesehatan bukan hanya tentang sembuh dari penyakit, melainkan juga tentang merawat hubungan dengan sesama, dengan alam, dan dengan nilai-nilai yang membuat kita tetap menjadi manusia.

Itulah pelajaran terbesar dari gering agung. Bukan hanya untuk Bali, tetapi juga untuk siapa pun yang percaya bahwa kebudayaan dapat menjadi bagian penting dari proses penyembuhan. ***

 

*) Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair. Sejak 2018 ia telah menulis 20 buku, kumpulan puisi dan buku kumpulan esai. Ia dapat dijumpai di akun Instagram: @anggawijaya548.

 

 

Berita Terkait