DENPASAR, BicaraBaliNews.com – Teater Selem Putih akan mementaskan drama “Di Bawah Pohon Sukun” dalam ajang Festival Seni Bali Jani VIII 2026.
Pertunjukan yang mengangkat kisah pengasingan Bung Karno di Ende tersebut dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 19 Juli 2026, pukul 20.00 Wita, di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali.
Drama karya sekaligus sutradara Putu Satria Kusuma itu mengajak penonton menelusuri salah satu fase penting perjalanan hidup Sukarno selama menjalani masa pembuangan di Ende, Flores.
Berangkat dari berbagai referensi sejarah yang dipadukan dengan imajinasi artistik, pementasan ini menawarkan ruang refleksi mengenai proses lahirnya Pancasila sekaligus mengajak publik meninjau kembali relevansinya dalam kehidupan Indonesia saat ini.
Kisah dalam drama diawali dengan seorang wartawan perempuan yang menyusuri aktivitas Sukarno selama menjadi tahanan politik di Ende.
Ia memperoleh kabar dari seorang pejabat Belanda bahwa Sukarno tidak lagi menjalankan aktivitas politik, melainkan sibuk membentuk kelompok sandiwara yang sukses menggelar berbagai pementasan.
Rasa penasaran membawanya diam-diam datang ke Ende. Saat itu, Sukarno tengah mempersiapkan pementasan drama Koetkoetbi bersama warga setempat.
Para pemain yang dilatihnya bukan aktor profesional, melainkan masyarakat biasa yang mencintai seni pertunjukan.
Dalam alur cerita, seorang pelaut kemudian datang menemui Sukarno dan mengajaknya melarikan diri dari Ende untuk kembali ke Jawa melanjutkan perjuangan. Wartawan perempuan tersebut juga mendesaknya mengambil kesempatan itu. Namun Sukarno memilih tetap bertahan di tempat pengasingannya.
Di bawah pohon sukun, Sukarno digambarkan tetap berjuang melalui jalan kebudayaan. Ia bermain sandiwara, merenungkan masa depan bangsa, sekaligus diam-diam mengajarkan lagu Indonesia Raya kepada masyarakat. Tindakan itu kemudian diketahui polisi Belanda sehingga ia harus membayar denda.
Pementasan ini juga menghadirkan bayangan-bayangan rakyat yang mempertanyakan masa depan Indonesia. Mereka mempertanyakan apakah setelah kemerdekaan tercapai kehidupan rakyat benar-benar akan menjadi lebih baik dan sejahtera.
Pergulatan tersebut mengantar cerita menuju Juni 1945, saat Sukarno menyampaikan hasil perenungannya yang kemudian dikenal sebagai Pancasila.
Pada bagian akhir cerita, akan muncul seorang tokoh Belanda yang memuji Pancasila sebagai dasar negara yang mampu mempersatukan Indonesia.
Namun, tokoh tersebut juga mengingatkan bahwa apabila Pancasila hanya menjadi pemanis bibir dan tidak diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, cita-cita para pendiri bangsa dapat terancam kehilangan maknanya.
Putu Satria Kusuma mengatakan pementasan ini tidak dimaksudkan sekadar mengajak penonton bernostalgia terhadap kisah Bung Karno di Ende.
“Saya tidak bermaksud mengajak klangenan semata, tetapi juga mengajak kembali merenung mengapa Sukarno melahirkan Pancasila. Sudahkah kita benar-benar menjalankannya? Pementasan ini merupakan sebuah tawaran untuk kondisi kekinian kita,” ujar Putu Satria Kusuma.
Menurut Putu, naskah “Di Bawah Pohon Sukun” terinspirasi dari sejumlah referensi sejarah, antara lain buku Penyambung Lidah Rakyat, Sukarno di Ende, serta berbagai sumber lainnya.
Sementara tokoh wartawan perempuan memperoleh inspirasi dari sosok jurnalis sekaligus pejuang SK Trimurti. Meski demikian, pertemuan tokoh tersebut dengan Sukarno dalam drama sepenuhnya merupakan hasil imajinasi dramatik.
Produksi Teater Selem Putih ini akan melibatkan Kadek Wahyudi Prasancika, Ni Putu Ayu Sri Darmayanti, Kadek Arlyn Aristianti, Made Ngurah Suartha, Luh Asti Apriyani, Komang Trisna Tresnasih, A.A. Ngurah Anggara Surya, I Putu Nanta Krisna Mahayana, Dede Nata Parwanta, Ketut Purnada, Ketut Weker, I Putu Wahyu Mahaputra, dan Komang Tri Rahayu.
Penataan gerak dipercayakan kepada Komang Diva Prasetya Wira Dharma. Pementasan ini juga didukung Teater Lalang SMKN 1 Singaraja, Teater Lalang SMA Lab Undiksha Singaraja, Shakina, Erlangga, Suta, Ody, Ananda, dan Diny. Sementara tata musik akan digarap oleh Ben Prince MusikAsik bersama Deuh Eternals.
Melalui pementasan yang akan digelar tersebut, Teater Selem Putih berharap teater tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga ruang refleksi untuk mengingat kembali proses lahirnya Pancasila beserta nilai-nilai yang dikandungnya.
Pertunjukan ini diharapkan menjadi undangan bagi publik untuk tidak sekadar mengenang sejarah, melainkan juga mempertanyakan sejauh mana cita-cita yang dirumuskan Bung Karno telah diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (WIJ)

