Oleh Angga Wijaya*
SETIAP kali bertemu sesama perantau di Denpasar, saya hampir selalu merasa menemukan sesuatu yang mulai langka, yakni, percakapan.
Kami mungkin berasal dari kabupaten yang berbeda di Bali. Ada yang datang dari Jembrana, Karangasem, Buleleng, Bangli, atau Klungkung. Kami dipertemukan oleh pekerjaan, kos-kosan, warung makan, kedai kopi, atau sekadar menunggu hujan reda. Anehnya, perbedaan asal daerah justru terasa tidak penting. Yang terasa adalah nasib yang sama; meninggalkan rumah untuk mencari kehidupan.
Dalam bahasa Bali, ada ungkapan ngalih nyama—mencari saudara. Saya semakin memahami maknanya setelah tinggal di kota. Saudara ternyata tidak selalu lahir dari hubungan darah. Ia bisa lahir dari percakapan yang tulus, dari saling mendengarkan, dari kesediaan hadir bagi orang lain.
Ironisnya, pada saat teknologi komunikasi berkembang begitu pesat, percakapan justru menjadi semakin mahal.
Di mana-mana orang menunduk. Di halte, di rumah makan, di ruang tunggu rumah sakit, bahkan ketika berkumpul bersama keluarga. Semua sibuk menatap layar. Ponsel pintar telah menjadi benda pertama yang dicari ketika bangun tidur dan benda terakhir yang disentuh sebelum memejamkan mata.
Kita memang terhubung dengan ribuan orang melalui media sosial. Namun, belum tentu kita benar-benar berbicara dengan seseorang.
Saya sering memperhatikan satu hal sederhana. Ketika dua orang duduk bersama, percakapan mereka mudah terputus oleh bunyi notifikasi. Kalimat yang belum selesai langsung digantikan oleh perhatian pada layar. Lama-kelamaan, kemampuan menyimak menjadi berkurang. Kita mendengar, tetapi tidak benar-benar mendengarkan.
Padahal, mendengarkan adalah bentuk penghormatan paling sederhana kepada manusia lain.
Saya masih ingat masa ketika internet belum menguasai kehidupan sehari-hari. Seusai bekerja, orang-orang duduk di teras rumah. Anak-anak bermain hingga petang. Tetangga saling berkunjung tanpa harus membuat janji melalui aplikasi. Percakapan mengalir tanpa terburu-buru.
Hari ini, semuanya berubah. Kota bergerak cepat. Waktu menjadi komoditas. Bahkan perhatian kita ikut diperebutkan oleh berbagai aplikasi yang dirancang agar pengguna bertahan selama mungkin di dalam layar.
Tidak ada yang salah dengan teknologi. Berkat internet, kita dapat belajar apa saja, bekerja dari mana saja, bahkan menjalin persahabatan lintas negara. Saya sendiri banyak memperoleh manfaat dari teknologi digital.
Yang menjadi persoalan adalah ketika teknologi mulai menguasai manusia. Kita membuka ponsel bukan lagi karena membutuhkan informasi, melainkan karena sudah menjadi kebiasaan. Jari bergerak otomatis menggulir layar. Video demi video berganti tanpa benar-benar diingat. Satu jam berlalu tanpa terasa.
Belakangan muncul istilah brain rot. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kebiasaan mengonsumsi konten digital secara berlebihan dan tanpa henti sehingga perhatian menjadi mudah terpecah dan sulit berkonsentrasi dalam waktu lama.
Meski bukan istilah medis, fenomena ini mengingatkan kita bahwa otak pun membutuhkan ruang untuk beristirahat dari banjir informasi.
Di sisi lain, para peneliti juga semakin banyak mengkaji hubungan antara penggunaan media digital yang berlebihan dengan meningkatnya stres, kecemasan, gangguan tidur, serta menurunnya kualitas interaksi sosial.
Tentu, masalah kesehatan mental memiliki penyebab yang sangat kompleks dan tidak bisa disederhanakan hanya karena penggunaan ponsel. Namun, tidak dapat dimungkiri bahwa cara kita menggunakan teknologi ikut memengaruhi kualitas hidup sehari-hari.
Yang paling saya khawatirkan justru anak-anak. Kini tidak sedikit balita yang sudah memegang ponsel sebelum lancar berbicara. Agar tenang, mereka diberi video. Agar tidak menangis, mereka diberi gim. Layar menjadi pengasuh baru dalam keluarga modern.
Mungkin cara itu terasa praktis bagi orang tua yang sibuk. Namun, saya sering bertanya-tanya, apakah anak-anak itu kelak masih menikmati duduk berlama-lama mendengarkan cerita, membaca buku, atau berbincang tanpa merasa bosan?
Kekhawatiran itu bukan berarti mengajak kita memusuhi teknologi. Teknologi adalah hasil kecerdasan manusia. Yang perlu dijaga adalah keseimbangan.
Sebab, secanggih apa pun sebuah aplikasi, ia tidak mampu menggantikan hangatnya percakapan. Tidak ada emoji yang benar-benar bisa menggantikan senyum seseorang. Juga, tidak ada panggilan video yang sepenuhnya mampu menggantikan duduk berdampingan sambil menyeruput kopi.
Dan tidak ada jumlah pengikut di media sosial yang otomatis membuat seseorang tidak merasa kesepian.
Mungkin karena itulah saya selalu menikmati kesempatan mengobrol dengan sesama perantau. Percakapan sederhana tentang kampung halaman, harga kos, pekerjaan, keluarga, atau makanan favorit sering kali terasa lebih menenangkan daripada berjam-jam menjelajahi media sosial.
Di kota, kita memang datang untuk bekerja dan mencari penghidupan. Namun, manusia tidak hidup dari penghasilan semata. Kita juga hidup karena memiliki orang yang mau mendengarkan cerita kita.
Barangkali, makna ngalih nyama pada zaman sekarang bukan lagi sekadar mencari kerabat yang berasal dari kampung yang sama. Lebih dari itu, ia adalah upaya menemukan kembali hubungan antarmanusia yang perlahan terkikis oleh layar.
Sebab, pada akhirnya, kota tidak hanya membutuhkan gedung-gedung tinggi, jalan yang lebar, atau jaringan internet yang cepat.
Kota juga membutuhkan manusia yang masih bersedia saling menyapa, saling mendengar, dan saling menganggap satu sama lain sebagai saudara. Itulah ngalih nyama yang sesungguhnya. ***
*) Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Balnji. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair. Sejak 2018 ia telah menulis 20 buku, kumpulan puisi dan buku kumpulan esai. Ia dapat dijumpai di akun Instagram: @anggawijaya548.

