PUISI AGAM WISPI
Pulang
Di mana kau pohonku hijau
di sini aku sudah jadi batu
Hai perantau darimana kau
darimana saja aku mau melekat jadi debu
di karet, di karet katamu
Wahai chairil apa kau masih di situ
atau lenyap dipasok batu
atau senyap sebelum tahun 2000
Ya Banda mengena juga yang kau bilang
tak seorang berniat pulang
pulang? Kemana harus pulang
si burung samudera tanpa sarang
bangga aku teringat Sujoyono berani menuding
dan bilang untung aku bukan anjing
ini juga modernisasi globalisasi
kata-kata jadi kering kebudayaan baru
dari bawah sampai atas
tukang peras atau maling.
Puisi hanya kaulah lagi tempatku pulang
Puisi hanya kaulah pacarku terbang
Puisi generasi baru yang bijak bestari menerjang
keras bagai granit cintanya bagai laut menggelombang
Di mana kau pohonku hijau
dalam puisimu wahai perantau
dalam cintamu jauh di pulau.
1996
Catatan Angga Wijaya:
‘Puisi, kaulah lagi tempatku pulang/Puisi hanya kaulah pacarku terbang’. Bait puisi ini memiliki makna mendalam bagi saya, dan mungkin juga mereka yang tak bisa pulang karena berbagai sebab. Pada sang penyair, ia tak bisa kembali ke tanah air oleh sebab huru-hara politik 1965-1966 di Indonesia. Ia menjadi ‘gelandangan’ di negeri orang, eksil. Juga banyak lagi generasi cerdas bangsa ini yang kala itu disekolahkan Soekarno ke luar negeri untuk nantinya menjadi sarjana yang akan memajukan negeri kita. Impian itu kandas, terhempas, oleh sebab tragedi politik yang menyakitkan. Semoga tragedi itu tak pernah terulang lagi di negeri kita tercinta.
*) Agam Wispi, (31 Desember 1930 – 1 Januari 2003), adalah seorang penulis Indonesia, termasuk sebagai salah seorang penulis sastra eksil Indonesia. Ia mulai menjadi eksil, orang yang hidup di pengasingan, di Belanda sejak tahun 1988. Ia adalah seorang penyair, banyak menulis sajak, juga cerpen dan drama. (Sumber biodata: Wikipedia)

