Agustus 13, 2026

Pulang | Puisi Agam Wispi

PUISI AGAM WISPI

 

Pulang

Di mana kau pohonku hijau

di sini aku sudah jadi batu

 

Hai perantau darimana kau

darimana saja aku mau melekat jadi debu

di karet, di karet katamu

 

Wahai chairil apa kau masih di situ

atau lenyap dipasok batu

atau senyap sebelum tahun 2000

 

Ya Banda mengena juga yang kau bilang

tak seorang berniat pulang

pulang? Kemana harus pulang

si burung samudera tanpa sarang

bangga aku teringat Sujoyono berani menuding

dan bilang untung aku bukan anjing

 

ini juga modernisasi globalisasi

kata-kata jadi kering kebudayaan baru

dari bawah sampai atas

tukang peras atau maling.

 

Puisi hanya kaulah lagi tempatku pulang

Puisi hanya kaulah pacarku terbang

Puisi generasi baru yang bijak bestari menerjang

keras bagai granit cintanya bagai laut menggelombang

 

Di mana kau pohonku hijau

dalam puisimu wahai perantau

dalam cintamu jauh di pulau.

 

1996

 

Catatan Angga Wijaya:

‘Puisi, kaulah lagi tempatku pulang/Puisi hanya kaulah pacarku terbang’. Bait puisi ini memiliki makna mendalam bagi saya, dan mungkin juga mereka yang tak bisa pulang karena berbagai sebab. Pada sang penyair, ia tak bisa kembali ke tanah air oleh sebab huru-hara politik 1965-1966 di Indonesia. Ia menjadi ‘gelandangan’ di negeri orang, eksil. Juga banyak lagi generasi cerdas bangsa ini yang kala itu disekolahkan Soekarno ke luar negeri untuk nantinya menjadi sarjana yang akan memajukan negeri kita. Impian itu kandas, terhempas, oleh sebab tragedi politik yang menyakitkan. Semoga tragedi itu tak pernah terulang lagi di negeri kita tercinta.

 

*) Agam Wispi, (31 Desember 1930 – 1 Januari 2003), adalah seorang penulis Indonesia, termasuk sebagai salah seorang penulis sastra eksil Indonesia. Ia mulai menjadi eksil, orang yang hidup di pengasingan, di Belanda sejak tahun 1988. Ia adalah seorang penyair, banyak menulis sajak, juga cerpen dan drama. (Sumber biodata: Wikipedia)

Berita Terkait